1000181338.png

TW // harsh words, alcohol, club atmosphere, suggestive content, kissing, age gap, semi-nsfw

Suara bising menggema di seluruh penjuru ruangan. Dentuman bas musik menghantam sampai ke dada, membuat lantai seolah ikut bergetar mengikuti irama. Aroma alkohol bercampur asap rokok dan parfum mahal memenuhi udara, melekat pekat di dalam klub yang remang-remang itu.

Lampu-lampu neon berwarna biru dan ungu bergerak liar menyapu ruangan. Sesekali cahayanya memantul pada dinding gelap, lalu menyorot wajah para pengunjung yang larut dalam euforia malam. Tawa, suara gelas beradu, serta obrolan samar bercampur menjadi satu di tengah musik yang memekakkan telinga.

Di salah satu meja ujung ruangan, duduk seorang lelaki rupawan bernama Nolan. Ia mengenakan jaket denim gelap yang dibiarkan terbuka, memperlihatkan kaos putih ketat di baliknya yang membalut tubuh tegapnya dengan pas. Kain tipis itu memperjelas bentuk dada bidang serta lengan berototnya setiap kali ia bergerak. Kalung tipis yang melingkar di lehernya pun sesekali berkilau saat lampu klub menyorot ke arahnya.

Nolan duduk santai di sofa hitam, kaki terbuka malas, sementara satu tangannya menggenggam gelas berisi minuman beralkohol. Beberapa temannya tampak sibuk mengobrol dan tertawa di sekitarnya, tetapi Nolan sendiri terlihat lebih tertarik memperhatikan isi ruangan.

Mata bulatnya bergerak perlahan dari satu sudut ke sudut lain, mengamati orang-orang yang berlalu lalang di dekat bar maupun dance floor. Tatapannya tajam, tenang, namun seolah sedang mencari sesuatu—atau seseorang.

“Lan, cari siapa?” tanya Dania—salah satu temannya. Tubuh perempuan itu ikut merapat ke sisi Nolan.

Nolan menoleh sekilas. Ia memutar gelas di tangannya sebelum menjawab santai, “Cari yang mau gue ajak main malam ini.”

Setelah mengatakan itu, ia menenggak habis sisa minumannya tanpa ragu.

Mendengar jawaban tersebut, senyum Dania langsung melebar samar. Ia semakin merapatkan tubuhnya pada Nolan, lalu melingkarkan kedua tangannya pada lengan berotot lelaki itu dengan manja.

“Sama gue aja gimana?” bisiknya dekat telinga Nolan. “Gue mau kok kalau lu mau pake gue malam ini.”

Sorot lampu biru yang bergerak liar membuat wajah Dania terlihat semakin menggoda. Tatapannya sayu, bibir tebalnya yang sedikit mengerucut terlihat seksi saat menatap Nolan lekat-lekat.

Nolan akhirnya menoleh penuh. Tatapannya turun sebentar ke wajah Dania sebelum tangannya terangkat mengusap pipi perempuan itu pelan. Jemarinya bergerak pelan, seolah sudah terbiasa dengan situasi seperti ini.

Wajah Dania semakin mendekat. Bibir mereka nyaris bertemu kalau saja Nolan tidak lebih dulu menahan dagu perempuan itu dengan jemarinya.

“Enggak dulu ya, Dan,” ucap Nolan ringan, masih dengan nada santainya. “Minggu kemarin kan udah.”

Nada suaranya terdengar seperti candaan, tetapi cukup jelas untuk membuat senyum Dania memudar tipis.

Mungkin merasa tidak enak karena menolak, Nolan akhirnya mencondongkan tubuh sebentar dan mengecup singkat bibir Dania sebelum kembali menjauh.

Perempuan itu menatap Nolan dengan ekspresi sebal bercampur kecewa. Tangannya perlahan melepas pelukan di lengan Nolan sebelum ia bersandar kembali ke sofa.

“Gue ke toilet dulu ya,” ucap Nolan sambil bangkit dari sofa.